Ajak Generasi Milenial Tanggap PMK, Polbangtan Kementan Hadirkan Pakar pada Millennial Agriculture Forum

Bagikan Info

Dalam upaya diseminasi pencegahan dan penanganan penyakit mulut dan kuku ternak yang saat ini sedang merebak, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa yang berada di bawah naungan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) mengadakan Webinar Millennial Agriculture Forum (MAF) bertema, Waspada Penyakit Mulut dan Kuku Pada Terrnak” yang diadakan secara daring (21/05).

Seperti diketahui penyakit mulut dan kuku (PMK) yang saat ini telah menyebar di berbagai daerah terutama terutama di Jawa Timur dan Aceh ini cukup meresahkan, hal ini selain dikarenakan proses penyebarannya cepat juga karena waktu yang mendekati hari raya idul qurban.

Oleh karena itu Menteri Pertanian (SYL) langsung bergerak melakukan berbagai program dalam upaya pencegahan dan penanganan Penyakit tersebut.
“Melalui pengetahuan yang cukup tentang PMK dan langkah-langkah yang perlu diambil”, ujar SYL.

SYL berharap PMK yang mewabah ini berada pada level yang ringan dengan tingkat risiko rendah sehingga jenis PMK ini dapat ditangani secara cepat.

“Hari ini kita harus berhadapan dengan PMK, tetapi mudah-mudahan PMK ini adalah PMK yang levelnya ringan, yang mutasi atau tingkat penyebarannya tidak terlalu tinggi dan tingkat kematiannya pada hewan rendah” jelas SYL.

Mentan juga mengapresiasi terhadap semua pihak yang telah berupaya terlibat dalam pencegahan dan pengendalian PMK saat ini, seperti pembentukan satgas dan gugus tugas, agenda SOS, langkah temporer dan agenda recovery ataupun pemulihan.

Kepala Badan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi mengapresiasi Polbangtan Gowa atas pelaksanaan MAF yang bertema PMK pada Ternak. Kegiatan ini adalah merupakan dari salah satu upaya diseminasi perihal PMK ke masyarakat luas khususnya petani milenial.

Ada tiga pesan Dedi dalam menghadapi wabah PMK yang disampaikan dalam MAF yang dihadiri sekitar 875 peserta ini; pertama adalah tidak panik karena panik tidak akan menyelesaikan masalah, kedua petugas veteriner, penyuluh dan seluruh insan pertanian turun langsung ke peternak di lapangan, dan ketiga kerjasama semua pihak baik itu peternak, petugas maupun pemerintah setempat, karena upaya penanggulangan wabah ini tidak akan bisa diatasi jika dilakukan sendiri.

MAF yang di helat oleh Polbangtan Gowa kali ini menghadirkan 2 narasumber yang ahli pada bidangnya yaitu A.Maghfirah Satya Dosen dan Kepala Program studi Pendidikan Profesi Dokter Hewan Universitas Hasanuddin dan drh. Agus Riady selaku Medik Veteriner Dinas Peternakan & Kesehatan Hewan.

Dalam paparannya Maghfirah mengatakan bahwa salah satu upaya paling utama dalam pencegahan dan pengendalian PMK adalah dengan cara mengenalinya, maka pelaksanaan webinar kali ini adalah tindakan yang tepat dalam upaya mengenalkan masyarakat apa itu PMK.

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau dikenal sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) adalah penyakit hewan menular yang disebabkan oleh virus dan menyerang ternak seperti sapi, kerbau, kambing, dan babi. Namun demikian, meski penyakit ini terkonfirmasi dapat menyebar cepat mengikuti arus transportasi daging dan ternak terinfeksi, PMK dipastikan tidak beresiko terhadap kesehatan manusia.

Direktur Polbangtan Gowa Syaifuddin yang turut membuka MAF menyampaikan ucapan terimakasih kepada kedua narasumber yang hadir, dan berharap semua peserta baik mahasiswa, dosen, para petani milenial dan masyarakat umum yang hadir dapat memanfaatkan webinar ini, sebagai upaya Pemerintah dalam memberikan ilmu pengetahuan yang benar kepada masyarakat luas tentang Penyakit mulut dan kuku, sehingga tindakan pencegahan dan pengendaliannya dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Nursanty dalam closing statementnya menjelaskan bahwa pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian telah mengambil langkah karantina wilayah untuk hewan ternak, rencana pengadaan vaksinasi termasuk membentuk satuan tugas.
Sejauh ini, Kementan telah menetapkan Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur di Aceh, serta Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Lamongan dan Mojokerto di Jawa Timur sebagai daerah wabah PMK.

Lebih lanjut Idha mengatakan, ada tiga langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah saat ini. “Pertama, menemukan jenis virus sehingga bisa ditentukan vaksin yang akan diberikan. Kedua, memberikan obat-obatan dan vitamin pada sapi yang terinfeksi PMK, dan ketiga dari segi regulasi dan kebijakan, sesuai petunjuk bapak presiden, membentuk gugus tugas nasional, provinsi dan kabupaten”, tutupnya.


Bagikan Info