Berita

Bermodal 1,5 Juta Sukses, Mahasiswa Raup Untung 5 Juta/Bulan dari Bisnis Hidroponik

Posted by:

Zulkifli adalah anak seorang petani di Bone yang juga terdaftar sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan agribisnis telah merintis usaha sayur hidroponik di lahan halaman belakang rumah yang terletak di Dusun Paijo Desa Timusu Kecematan Ulaweng, Kabupaten Bone.

“Awal mula ketertarikan saya pada bisnis sayuran hidroponik saat sudah mulai jenuh ketika awal pandemi 2020 lalu. Kebetulan ada beberapa teman yang bekerja di Pasar sering berdiskusi dan hasilnya bahwa permintaan masyarakat akan sayuran hidroponik cukuplah besar”, ungkap Zulkifli.

Berbekal modal pengetahuan ketika mengikuti program kegiatan penumbuhan jiwa wirausaha muda di Kampus, ia memutuskan membuat usaha ini. “Saya mulai dengan modal tabungan sebesar Rp. 1.500.000,- . Dan seiring berjalannya waktu peminat semakin banyak bahkan sampai luar kota Bone, akhirnya saat ini saya sudah mempunyai 1500 lubang tanam dengan jenis tanaman sayur selada dan pakcoy. Hasilnya pun sebenarnya diluar perkiraan saya. Omset per bulan mulai dari 4 juta hingga 5 juta per bulan”, ujar pemilik Al-Fikri Farm ini.

Harapan kedepannya setelah lulus kuliah nanti Ia akan berencana mengembangkan konsep pertanian terpadu dimana peternakan, perikanan, pertanian menjadi satu. Ia juga sekaligus salah satu penerima manfaat program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS) yang didanai oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Kementerian Pertanian memberikan perhatian besar kepada pengembangan petani milenial seperti Zulkifli dengan harapan dapat mempercepat regenerasi petani.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyatakan bahwa peningkatan peran generasi muda pertanian dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian, agar lebih prospektif dan berpeluang ekspor perlu diprioritaskan, sehingga dibutuhkan petani-petani muda yang dapat memberikan kontribusi dalam gerakan pembaharuan pembangunan pertanian.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar Mentan SYL.

Sejalan dengan arahan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan menyadari peran generasi milenial di sektor pertanian sangatlah vital bagi pembangunan Indonesia.

“Indonesia membutuhkan lebih banyak sosok milenial tangguh untuk memajukan sektor pertanian. Kementan terus berupaya mencetak lebih banyak wirausahawan milenial berjiwa maju, mandiri dan modern,” kata Dedi.

0
  Related Posts
  • No related posts found.