Berita

Dari Kotoran Sapi, Petani Milenial Maros Raup Untung

Posted by:

Amirullah Petani milenial asal dusun Bontomanai Kelurahan Allepolea Kabupaten Maros saat ini bisa tersenyum lebar. Pasalnya limbah kotoran sapi yang ia ternak sudah tidak lagi mengganggu, bahkan memiliki nilai ekonomis tinggi hingga meraup untung banyak. “Awalnya kami sempat bingung dengan limbah sapi ini. Tapi kini saya dan anggota kelompok Tani Okiagaru Allepolea lainnya dapat mendulang hasill dari limbah ini”, kata Ulla sapaan akrabnya.

Kelompok Tani Okiagaru Allepolea di Provinsi Sulawesi Selatan yang diawali Allu ini merupakan salah satu penerima manfaat program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS) yang didanai oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Program YESS bertujuan untuk menciptakan regenerasi petani. Hadirnya program YESS diharapkan dapat mencetak wirausahawan muda pertanian andal, berdaya saing, berkompeten.

Ulla memulai usahanya dengan memelihara dua ekor anakan sapi jantan dan betina. Keuntungan dari beternak itu pula yang mengantar Ulla menjadi Sarjana Pertanian di Universitas Islam Makassar.

“Usaha ini sangat menjanjikan, bahkan saat ini sumber penghasilan utama saya adalah pupuk kompos dari kotoran sapi ini. Saya mendapatkan Rp. 150.000 per harinya. Produk kompos saya sudah punya pelanggan tetap. Bahkan bisa dikatakan bahwa kotoran dari 10 ekor sapi ini lebih menguntungkan dari bisnis jual beli ternak sapi itu sendiri”, katanya.

Ia pun menularkan kemampuan serta keahliannya kepada beberapa peternak didesanya, hingga mereka kini telah tergabung dalam kelompok tani.

“Saat ini saya kewalahan menerima pesanan terlebih dimasa pandemi, permintaan akan media pupuk semakin meningkat dengan maraknya aktifitas ibu-ibu rumah tangga memelihara tanaman hias. Adanya anggota kelompok yang bersama-sama menghasilkan pupuk kompos ini menjadi solusi untuk memenuhi permintaan pasar”, ujar Ulla yang juga tercatat sebagai alumni magang jepang.

Ulla menambahkan pemanfaatan Sosial Media sebagai media pemasaran juga sangat berarti baginya. Rata-rata pembeli produk komposnya melalu medsos Facebook. Sehingga bisa leluasa dapat berkomunikasi dengan peternak lain terkait bisnis kompos.

Kesuksesan Ulla inilah yang membuat Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menaruh harapan besar pertanian pada generasi milenial. Saat ini banyak petani milenial yang telah menjadi pengusaha dalam sektor pertanian.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik, ujar SYL.

Mentan pun menekankan adanya transformasi usaha agribisni para milenial ke arah digital dapat memberi dampak signifikan dalam memperluas dan mendekatkan akses pangan lokal kepada masyarakat.

Senada dengan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi juga menyampaikan saat ini milenial pertanian semakin bertambah dan meningkat, membuktikan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang punya peluang besar.

“Generasi milenial saat ini semakin cerdas dalam mencari peluang bisnis mereka yang telah terjun dan mencintai dunia pertanian akan makin menguasai bagaimana mengembangkan pertanian mulai dari hulu sampai hilirnya menjadi peluang bisnis. Apalagi ditambah dengan memanfaatkan teknologi digital dan sosial media akan makin menjanjikan tentunya,” tegas Dedi.

0
  Related Posts
  • No related posts found.