Berita

Hadirkan Peluang Usaha, Peternak Milenial Asal Bulukumba Raup Omzet Puluhan Juta

Posted by:

Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan berbagai terobosan untuk membangun dan mewujudkan pertanian melalui petani milenial. Dengan target 2.5 juta pengusaha pertanian mendukung ketahanan pangan nasional dengan mengukuhkan 2.000 DPM/DPA di seluruh Indonesia.

Langkah tersebut juga didukung program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS) Kementan bertekad meningkatkan kualitas dan kapasitas generasi muda. Termasuk menghadirkan peluang usaha yang dibangun oleh Petani Milenial yang telah sukses berwirausaha.

Hal ini sejalan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL). Menurutnya sektor pertanian menjadi harapan, tulang punggung di tengah upaya Pemerintah dalam menanggulangi Covid 19.

“Tanggung jawab penyediaan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia merupakan spirit bagi keluarga besar Kementerian Pertanian dan semua pelaku pembangunan pertanian,” tegas Mentan SYL.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menambahkan, pentingnya peningkatan SDM. “Jika ingin pertanian maju, majukan dahulu kualitas SDM. Karena SDM yang berkualitas bisa menghadirkan inovasi dan terobosan-terobosan yang dibutuhkan pertanian.

Semakin banyak generasi milenial yang mengembangkan usahanya. Tentu hal ini dapat membantu dan memperbaiki perekonomian Indonesia.

Kesuksesan ini ditunjukan oleh Tekad Sudirman Usman (35), SDM unggul berhasil mengelola usaha ternak kambing. Petani milenial sekaligus mentor program YESS ini telah membuktikan bahwa sektor pertanian sangat menjanjikan. Dengan merintis pemberdayaan ternak kambing di daerahnya yakni Kabupaten Bulukumba dan membuka lapangan usaha bagi masyarakat sekitar.

Berawal dari tahun 2019, pria yang akrab disapa sudirman melihat masyarakat sekitar kampungnya yang telah berternak kambing, tidak memiliki kelompok tani. Dari inilah Sudirman tergerak untuk membentuk kelompok dan memberdayakan peternakan yang ada di daerahnya.

Selanjutnya Ia memberdayakan sebanyak 15 peternak kambing dan 7 orang pembuat pupuk. Dari hasil tersebut, terdapat 2 koloni yang telah ia bangun yakni koloni A dengan luas 0.5 ha dan koloni B dengan luas 1 ha serta kambing yang diberdayakan yakni jenis kambing marica dan kaca.

“Disini masyarakat di kampung, saya berdayakan semua. Cukup saya arahkan untuk mengumpulkan kotoran ternaknya kemudian dibuatkan pupuk,” ujarnya.

Selain dari memberdayakan masyarakat untuk beternak kambing, Ia juga mengajarkan pengolahan limbah kambing menjadi pupuk, dan budidaya tanaman hortikultura.

Hal ini dibuktikan dengan masyarakat sekitar turut andil dalam membuat media tanam yang dimasukkan ke dalam polybag sebanyak 500 buah dalam seminggu dan mengajak siswa melakukan kegiatan packing pupuk organik.

Sudirman fokus pada pemberdayaan 25 ternak kambing dibandingkan dengan penggemukannya.

“Kami fokus dulu di pengembangan bukan di penggemukan untuk pemberdayaan masyarakat sekitar. Setiap anggota kelompok wajib menjual pupuk 1kg sebesar 10rb. Untuk penjualan alhamdulillah semua lancar karena sampai kotorannya laku semua,” pungkasnya.

Sudirman memasarakan kambingnya dalam bentuk anakan atau bibit untuk di bibit kembali oleh peternak dan motivasinya karena ia ingin membangun jaringan di Kabupaten Bulukumba sehingga masyarakat tidak lagi membeli kambing dari Provinsi NTT.

Keuntungan dari pupuk saja dapat mencapai 10-18 juta tanpa terhitung kambingnya. Akan tetapi setelah wabah corona-19 ini, penghasilannya mulai menurun.

Terakhir, kebutuhan kambing yang biasanya didapatakan dari luar. Kini mudah didapat di Kabupaten Bulukumba. Diharapakan dari pemberdayaan ini dapat menjembatani akan kebutuhan ternak kambing di daerahnya serta kelompok tani dan masyarakat setempat dapat dikembangkan dan dapat memberikan gambaran mengenai budidaya ternak kambing. “Kalau mau berusaha tidak akan rugi, asal ada kemauan pasti ada jalan,” tegas Sudirman.

0
  Related Posts
  • No related posts found.