Berita

Jelang Ujian Online SPMB, Polbangtan Gowa Gelar TryOut

Posted by:

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa menggelar TryOut Ujian Masuk Mahasiswa Baru pada Kamis, 25 Juni 2020.

Ketua Panitia PMB Aminuddin Saade menjelaskan bahwa TryOut ini merupakan persiapan bagi calon Mahasiswa Baru untuk menghadapi tes online sesungguhnya yang diperkirakan akan digelar pada awal Juli.

Rencana kami akan menggelar ujian PMB secara online pada tanggal 1 s.d. 4 Juli 2020 nantinya. Oleh karena itu kami menggelar TryOut bahkan akan ada TryOut Tahap ke II yang rencananya digelar kembali pada Sabtu nanti, ujar Aminuddin.

TryOut ini bukan dan tidak mempengaruhi ujian sebenarnya, ini hanya agar calon mahasiswa mendapat gambaran dan sekalian kami juga mengevaluasi kesiapan system yang kami gunakan melalui aplikasi internal SmartCampus yang beralamat di http://smartcampus.polbangtan-gowa.ac.id/pmb.

Hingga sore ini, TryOut cukup lancar walau masih ada kendala system pagi tadi, termasuk beberapa keluhan dari peserta terkait jaringan yang mereka gunakan dan tentunya segala kendala kami akan perbaiki dan benahi.
Oleh karena itu kami juga telah mengumumkan kepada peserta untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebagai pendukung proses ujian nantinya. Sebaiknya menggunakan laptop dan melihat kondisi jaringan internet dimana peserta akan mengikuti tes, ujarnya.
Untuk ujian nantinya, akan disuguhkan 50 soal yang harus diselesaikan peserta. Soal terbagi atas 3 materi ujian. Bahasa Inggris, Matematika dan Teknis Pertanian.

Ditempat terpisah, Direktur Polbangtan Gowa, Dr. Syaifuddin menekankan bahwa ujian masuk Polbangtan Gowa sama sekali tidak ada biaya. Jadi apabila ada oknum yang menjanjikan kelulusan, dengan meminta biaya khusus, tidak usah dipercaya. Bahkan kami persilahkan untuk dilaporkan kepihak berwajib.

Kami tentunya berusaha sebaik mungkin untuk menerima mahasiswa dengan kualitas yang baik. Sebagai Lembaga Pendidikan vokasi kami berusaha menjaga kualitas sehingga nantinya akan melahirkan petani-petani milenial yang berorientasi ekspor.

Ini dikarenakan saat ini jumlah petani Indonesia lambat laun mengalami penurunan. Jika terus begitu, maka 10 tahun yang akan datang Indonesia akan mengalami krisis petani, karena petani-petani di Indonesia umurnya sudah mendekati umur kurang produktif.
Berdasarkan data saat ini Indonesia memiliki 33,4 juta petani yang 30,4 juta di antaranya atau sekitar 91 persen adalah petani berusia tua. Hanya 2,5 juta atau sekitar sembilan persen yang merupakan petani milenial.

Mengatasi masalah ini, Kementerian Pertanian melakukan percepatan regenerasi petani melalui program-program Kementerian Pertanian yang bertujuan untuk menumbuhkan petani pengusaha milenial dan melahirkan start up pertanian. Salah satu upaya mempercepat regenerasi petani dilakukan melalui Pendidikan Vokasi Pertanian pada 7 Politeknik Pembangunan Pertanian di bawah Kementerian Pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan dalam Indonesian Agriculture Forum 2020 melalui video conference, Kamis (30/4), pendidikan vokasi mempunyai peran penting menghasilkan petani milenial berjiwa entrepreneur.

“Pendidikan vokasi telah dituntun dengan era yang baru. Saat ini pendidikan vokasi menjadi jawaban karena sekarang tidak hanya mengajarkan keterampilan dalam pendekatan intelektual tetapi juga sekaligus menyatukan sistem intelektual dengan manajemen orientasi seperti lapangan, dan praktis”, ujar SYL sapaannya.

Lebih lanjut disampaikan SYL, selain keterampilan intelektual, dalam vokasi di era saat ini ada pendekatan kedua yang sangat penting untuk didapatkan generasi milenial. Yaitu pendekatan karakter yang berasal dari intuisi atas pengalamannya.
“Pendidikan vokasi mampu menyatukan antara intelektual dengan karakter. Kekuatan karakter sangat penting karena akan membuatnya menjadi seorang yang kuat, mampu bertarung dan mampu mencari jalan keluar terhadap segala tantangan yang ada”, tambah SYL.

Menurutnya kapasitas lain yang didapat dari vokasi adalah kompetensi. “Kompetensi yang dibutuhkan kompetensi yang mampu berkolaborasi, kerja sama dengan orang lain dan juga kritis baik pada dirinya, lingkungan maupun ketika menghadapi masalah, yang tidak diam saja menerima apa adanya. Tidak cukup dengan itu saja ada satu hal lagi yang kaum milenial harus punya yaitu kompetisi mampu bersaing dengan kreativitas dan entrepreneurs”, kata SYL.

Dengan semua pendekatan yang diberikan dari pendidikan vokasi ini SYL yakin pertanian Indonesia akan jauh lebih maju dari negara lainnya. “Pertanian di Indonesia menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Sebab, sebagai negara tropis, pertanian Indonesia memiliki komoditas yang tidak dimiliki negara lain”, tegas Mentan Syahrul.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi yang hadir sebagai salah satu narasumber pada seminar ini menuturkan pembangunan SDM juga menjadi salah satu program prioritas Kementan. Hal ini sejalan dengan pembangunan SDM yang menjadi visi misi Presiden.
Dan inilah yang membuat kita terus berupaya menghadirkan petani milenial. “Kementan fokus mempercepat regenerasi petani ini, salah satunya melalui pendidikan vokasi. Dari pendidikan vokasi ini akan mendorong lahirnya petani milenial yang entrepreneurship,” ujar Dedi.
Selain itu, Dedi juga menambahkan peran pendidikan vokasi sangat dibutuhkan dalam meregenerasi petani, khususnya untuk mencetak petani milenial. “Kementan juga memiliki sejumlah Politeknik pertanian yang bisa mencetak para alumni yang betul-betul job seeker maupun job creator. Sehingga nantinya diharapkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan rekan-rekannya yang lain”. tambah Dedi.

Tidak hanya itu, Kementan juga mendorong penciptaan petani milenial melalui sinergi berbagai pihak yang bersinergi dalam gerakan Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) yang dalam program tersebut terdapat peningkatan kapasitas SDM salah satunya bagi petani milenial.

0
  Related Posts
  • No related posts found.