Berita

Manfaatkan Peluang, Sarjana Teknik Sipil asal Sulsel Terjun ke Dunia Pertanian

Posted by:

Lulus menjadi Sarjana Teknik sipil tak membuat Irfan pemuda asal sulawesi selatan ini berpuas diri. Besarnya peluang di sektor pertanian mendorongnya untuk mengembangkan budidaya hidroponik dengan memanfaatkan pekarangan tempat tinggalnya.

Menurutnya, Peluang bisnis tanaman hidroponik sangatlah besar dan menghasilkan materi yang cukup lumayan. Bisnis ini mulai dilirik oleh banyak orang. Apalagi dengan makin banyaknya masyarakat yang peduli dengan gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi sayur segar dan organik.

“Saya memulai bisnis ini dengan belajar otodidak, dari buku, belajar langsung ke petani hidroponik bahkan Youtube. Saya adalah sarjana Teknik sipil yang kesasar ke dunia pertanian. Hidroponik merupakan bisnis yang menguntungkan, hasil panennya bisa sampai dua kali lipat dari jumlah hasil panen pertanian konvensioal yang menggunakan tanah normal”,ungkap Irfan.

Dijelaskannya, Awal Ia melihat jumlah petani yang menggunakan system hidroponik kian berkurang namun permintaan akan sayuran hidroponik seperti selada dan pakcoy meningkat.

“Untuk kelancaran proses pemasaran, kami Bersama pemuda tani di Kecamatan Bantimurung, Maros ini membentuk kelompok yang proses penanamannya kami atur sedemikian-rupa agar panennya dapat berkesinambungan sehingga bisa memenuhi permintaan pasar. Pelanggan kami saat ini adalah restoran-restoran yang ada di Makassar, ada juga restoran masakan Korea yang membuka outlet di Mall-mall”, papar Irfan.

Irfan dan rekannya sangat menjaga kualitas tanaman hidroponik yang di supply ke restoran. “Kami bisa masuk ke restoran-restoran besar karena sudah lolos quality control, misal lubang didaun maksimal tiga, warna daun, dan bobot daun” ujar Irfan yang merupakan salah satu penerima manfaat program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS) yang dibiayai oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Lebih lanjut Irfan juga menceritakan saat ini Ia sudah memiliki 15.000 lubang untuk hidroponik dengan Sebagian besar ditanami pakcoy yang bisa menghasil 60 kg/minggu. Omset yang diterima mencapai 8 juta hingga 12 juta per bulannya. Usaha ini menurutnya cukup menjanjikan bagi para pemula.

“Kedepannya, kami berencana dengan teman-teman sarjana Teknik lainnya untuk merancang greenhouse yang telah memanfaatkan IoT, teman-teman saya yang sudah mulai tertarik dengan bisnis pertanian walaupun tidak mempunyai dasar sama sekali karena melihat situasi seperti dimasa pandemic ini terbukti hanya Pertanian yang bisa survive”, tambahnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta agar generasi milenial pertanian memanfaatkan paradigma baru dunia digital dalam mengembangkan pertanian. Karena, pertanian tak lagi sama dengan masa lalu. Di era digital seperti sekarang sektor pertanian juga beradaptasi dengan teknologi 4.0 untuk menjawab tantangan ke depan.

“Penerapan teknologi pertanian diharapkan mampu menekan biaya produksi menjadi lebih murah sehingga menciptakan harga yang kompetitif dari produksi komoditas pertanian nasional meningkat,” kata Mentan Syahrul.

Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Pertanian (Kementan) Dedi Nursyamsi memandang bisnis di sektor pertanian pada masa depan akan semakin menjanjikan, seiring berkembangnya teknologi di era disrupsi digital dan revolusi industri 4.0.

Menurutnya selama ini pekerjaan bertani dianggap sebagai hal yang tidak banyak menghasilkan keuntungan. Ternyata hal itu salah. Bahkan, di era disrupsi digital, sudah ada teknologi Internet of Things (IoT) yang bisa dimanfaatkan dalam segala sektor, termasuk pertanian.

Melalui aplikasi yang ada pada ponsel pintar, pemantauan lahan pun bisa dilakukan karena di era digitalisasi ini ‘semua dalam genggaman. Karena caranya sudah berubah, manajemen sudah berubah, ada IoT yang dimaksimalkan, sehingga hanya perlu memantau lahan dari android,” kata Dedi.

0
  Related Posts
  • No related posts found.