Berita

PKL Di Jeneponto, Mahasiswa Polbangtan Gowa Rutin Lakukan Pengamatan Dilahan Petani

Posted by:

Hal penting dilakukan dalam pengamatan adalah mengingat bahwa keputusan pengendalian hama tergantung pada jumlah pengetahuan tentang jumlah yang sebenarnya dari serangga (hama, musuh alami), intensitas penyakit, dan populasi tikus. Bagaimanapun, pengetahuan dan keterampilan tentang cara menghitung populasi dan kerusakan tanaman sangat penting untuk mengambil keputusan yang tepat bagi petani. Belajar menduga populasi dengan tepat harus dimulai dengan belajar bagaimana menghitung sample dengan benar.

Hasil pengamatan dapat memberikan informasi tentang keadaan lahannya, termasuk populasi hama dan musuh alami, dan intensitas serangan hama dan penyakit. Sampling dan pengamatan terhadap serangga (hama, musuh alami), penyakit, dan tikus merupakan komponen penting pada analisa ekosistem dilahan. Pola penarikan contoh dapat diakukan secara acak dan diagonal. Salah satu faktor yang menentukan tingkat ketelitian dan ketepatan pengamatan adalah jumlah yang diambil dalam setiap pengamatan.

Berikut ini akan dipelajari mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa dalam pengambilan sampel atau contoh pengamatan di lahan sawah. Tujuan dari kegiatan ini adalah dapat melakukan kegiatan pengamatan untuk menghitung kepadatan populasi dan intensitas serangan hama dan penyakit.

Bagi mahasiswa Polbangtan Gowa, hal ini telah diajarkan melalui teori dan praktik dikampus. Hanya saja perlu juga dibuktikan langsung dilapangan dengan keadaan nyata. Olehnya itu, mahasiswa diterjunkan ke daerah-daerah pada kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) I.

Kegiatan ini tentang pengamatan adanya gejala serangan penyakit blast pada pertanaman padi varietas mekongga milik Bapak Baharuddin Ketua Poktan Samaturu, Desa Balumbungan, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto. Hasil pengamatan Yuli, S.ST selaku Koordinator BPP Kec. Bontoramba, menyatakan bahwa gejala serangan sudah mulai nampak pada awal bulan Februari.

Olehnya itu dilakukan pengendalian awal dengan menggunakan fungisida sistemik. Adanya serangan Gejala penyakit blast dikarenakan beberapa faktor komponen pertanian yang tidak dilaksanakan dengan baik. Diantaranya kebiasaan petani melakukan pemupukan yang tidak berimbang salah satunya penggunaan urea yang berlebihan dan sering tidak diimbangi penggunaan pupuk lainnya. Hal ini tentu memicu perkembangan hama dan penyakit pada pertanaman padi. Petani tidak melakukan soaking pada benihnya,” ungkap Yuli.

Kegiatan pengamatan dilakukan pagi hari Pukul 10.00 Wita. Dikarenakan adanya lahan yang dimiliki petani di desa tersebut terserang oleh hama dan penyakit, yaitu pada tanaman padi. Serangan tersebut sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi, hasil panen dan pendapatan petani dalam rangka mensejahterakan kehidupan petani dan keluarganya.

Bersama mahasiswa diantaranya; Miftha Khuljannah Mustari, Nurilham Khaidir, Muhammad Alfarlyzi, Ummu Kalsum Hamzah, Selvina Rayani Sultan, Nadia Putri Sri Tanjung,Bagus Nur Prasetyo, Haspar Alfian Salama Samsul, Dzulhijrah Qurbayani dan Fadli Nurul Ashari Amir, dipandu Ibu Yuli.S.ST yang juga merupakan alumni STPP Gowa, mengunjungi lahan sawah milik petani yang terserang hama. Selasa (17/03).

Dengan kehadiran mahasiswa magang ini menjadi bahan referensi bagi mereka dilapangan. Mereka nantinya bisa lebih mengenali yang mana disebabkan gejala oleh penyakit dan mana yang disebabkan oleh hama berserta cara pengendaliannya,”

Pengendalian hama terpadu adalah pengendalian hama yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan unsur-unsur alami yang mampu mengendalikan hama agar tetap berada pada jumlah dibawah ambang batas yang merugikan. Komponen dari PHT adalah sebagai berikut; Penggunaan varietas unggul yang tahan hama dan penyakit, pengendalian hama, keseimbangan ekosistem dan pemanfaatan bahan dan musun alami, (Juanda & Cahyo, 2005). (MUZ).

0
  Related Posts
  • No related posts found.