Berita

Praktik Lapang Dimanfaatkan Oleh Mahasiswa Polbangtan Gowa Untuk Beri Penyuluhan dan Implementasi Teori

Posted by:

Bagi mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa, Hama dan Penyakit telah diajarkan melalui teori dan praktik dikampus. Hanya saja perlu juga dibuktikan langsung dilapangan dengan keadaan nyata. Olehnya itu, Polbangtan Gowa menerjunkan mahasiswanya didaerah-daerah strategis pada kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) I.

Tepatnya di Desa Bonto Bangun, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. Mahasiswa tim PKL I yakni; Taufiq Hidayat, Usrianto, Nurjusiah, Alfaridza Arianto, Firdah Aulia, Sri Erfiwandha. T, St. Nurfatiha, Nurwindasari, Hisbul Adillah, dan Subhan Ilham yang merupakan bimbingan Ir. Nuraeni, M.Si dan Drs. Idris Anwar, M.Pd. Bersama POPT Kec. Rilau Ale dan pemilik lahan menuju lahan sawah yang terkena serangan hama, pengamatan yang dilakukan bahwasanya petani di Kec. Rilau Ale mengalami gangguan permasalahan yaitu tanaman padinya banyak yang mati di akibatkan hama penggerek batang. Senin (16/03).

Kegiatan pengamatan dilakukan pagi hari pukul 10.15 WITA. Kenapa hal itu terjadi karena adanya laporan mengenai keluhan petani terhadap sawahnya yang terserang hama penggerek batang. Pada umumnya penggerek batang adalah hama yang yang menyerang hampir seluruh tanaman padi, Penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata Walker, 1863) adalah ngengat yang termasuk dalam suku Crambidae. Larva hewan ini menjadi hama penting dalam budidaya padi. Gejala yang ditemukan sebelum padi berbunga disebut sebagai sundep dan gejala serangan yang dilakukan setelah malai keluar dikenal sebagai beluk,” ungkap Taufik mahasiswa PKL I.

Tujuan dari pengendalian hama penggerek batang adalah agar tanaman padi tersebut tumbuh baik dan dapat berproduksi dengan baik lagi. Sehingga setelah melihat masalah tersebut muncul ide penanganan hama dengan pembuatan pestisida nabati dari daun serai dan daun pepaya Penyebabnya mengapa tanaman padi banyak yang mati dikarenakan jarak pola tanam yang tidak baik, banyaknya genangan air sehingga dengan hal tersebut penggerek batang muncul dan menyerang tanaman padi,” tambahnya.

Berdasarkan peninjauan langsung dilapangan, hal tersebut terjadi dikarenakan kondisi tanah pada sawah tersebut terlalu banyak genangan air , dan pola tanam yang tidak teratur, ditambah pengetahuan petani mengenai sistem tanam dan pengendalian hama di desa bonto bangun masih kurang karena kebanyakan petani masih mengikut sistem pertanian yang diajarkan oleh nenek moyangnya. sehingga pada umumnya tanaman padi di sawah tidak boleh di genangi air setiap hari malahan mereka tetap menggenangi air dengan alasan petani takut kekurangan air. Sehingga sawah petani tersebut tergenangi air, sehingga memicu timbulnya serangan hama seperti hama penggerek batang.

Namun setelah dilakukan penyuluhan dengan dipandu POPT Kec Rilau Ale, petani baru mengetahui penyebab tanaman tidak maksimal pertumbuhannya bahkan di ambang kematian. Akhirnya setelah di lakukan penyuluhan petani sudah faham dan mau menerapkan yang disuluhkan,” tutupnya. (MUZ).

0
  Related Posts
  • No related posts found.